Belum ada jadwal kajian mendatang. Silakan cek kembali saat jadwal terbaru sudah tersedia.
Sebagai Cagar Budaya, Masjid Agung Demak memiliki nilai historis dan arkeologis dengan arsitektur khas Indonesia, merupakan salah satu di antara bangunan Islam yang penting di Asia Tenggara dan Dunia Islam pada umumnya. Masjid yang religius ini mempunyai dua fungsi sebagai tempat peribadatan dan ziarah. Keberadaannya masih sangat dirasakan oleh masyarakat muslim Indonesia dan Negara tetangga serumpun. Adalah Raden Fattah, sosok manusia titisan Raja Majapahit, merupakan cikal bakal pendiri Masjid Agung Demak, ditinjau dari sejarahnya, Kerajaan Majapahit sudah ratusan tahun semua raja dan rakyatnya penganut ajaran Hindu Budha. Namun R Fattah sebagai hamba Allah pelaku idola yang dikehendaki Rabbul Izzati, maka jadilah seorang muslim. Sohibul hikayat Putri Campa, etnis Cina (ada yang menyebut Putri Liang), semenjak dipersunting Raja Majapahit ke X1V atau Brawijaya ke V, Prabu R. Kertabumi itu disatroni oleh Girindrawardhana/ Brawijaya ke VI. Alkisah Putri Campa yang sedang hamil itu diungsikan sebagai triman kepada Adipati Haryo Damar di Palembang, Pulau Sumatra. Dalam perjalanan waktu Putri Campa melahirkan seorang Pangeran yang gagah nan rupawan dari darah Majapahit dengan nama R. Jimbuningrat/R. Hasan (Jawa R.. Kasan) atau juga R. Fattah, selanjutnya dengan Adipati Haryo Damar lahirlah R. Husain (R. Kusen) kelak dikenal sebagai Adipati Terung/ Adipati Pecatanda/ R. Timbal. Singkat cerita Raden Fattah seorang satria dalam usia 14 tahun telah mengembara ke Pulau Jawa untuk mencari ayahnya disertai dua orang pengasuhnya ialah Beng Aang dan Hong Jebat dalam perjalanan menuju Majapahit, bertemu para Wali yang kemudian berguru berbagai ilmu: Keislaman, pengetahuan, pertanian, seni budaya, tata pemerintahan, maritim, keprajuritan, olah kanuragan serta kerokhanian. Konon bersama Wali Songo mendirikan pesantren dan membangun Masjid yang diawali peletakan batu pertama ditandai dengan PRASASTI pada pintu Bledeg, merupakan Condro Sengkolo yang berbunyi NOGO MULAT SALIRO WANI, bermakna tahun 1388 Saka = (1466 M) = (887 H).